Semakin Banyak Tahu,,


Semakin Kita Tahu,,

Bahwa Masih Sedikit Yang Kita Tahu..

Minggu, 18 September 2011

Renungan Dan Kisah Inspiratif "Sayangi Ibu Kita"


  • Ketika berusia 1 tahun, Ibu suapkan makanan dan memandikan kita. Cara kita mengucapkan terima kasih kepadanya hanyalah dengan menangis sepanjang malam.
  • Apabila berusia 2 tahun, Ibu mengajari kita bermain. Kita ucapkan terima kasih dengan lari sambil tertawa terkekeh-kekeh saat dipanggil.
  • Menjelang usia kita 3 tahun, Ibu menyediakan makanan dengan penuh rasa kasih sayang. Kita ucapkan terima kasih dengan menumpahkan makanan ke lantai.
  • Ketika usia 4 tahun, Ibu membelikan sekotak pensil warna. Kita ucapkan terima kasih dengan mencoreti dinding rumah.
  • Berusia 5 tahun, Ibu membelikan sepasang pakaian baru. Kita ucapkan terima kasih dengan bergulingan di tanah kotor.
  • Setelah berusia 6 tahun, Ibu menuntun tangan kita ke sekolah. Kita ucapkan terima kasih dengan menjerit : “Aku tidak mau sekolah, tidak mau sekolah!”.
  • Apabila berusia 7 tahun, Ibu membelikan sebuah bola. Cara mengucapkan terima kasih ialah kita pecahkan kaca jendela tetangga.
  • Menjelang usia 8 tahun, Ibu belikan es krim. Kita ucapkan terima kasih dengan mengotori pakaian ibu.
  • Ketika usia 9 tahun, Ibu mengantar ke sekolah. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan membolos.
  • Berusia 10 tahun, Ibu menghabiskan waktu sehari untuk menemani kita kemana saja. Kita ucapkan terima kasih dengan tidak bertegur sapa dengannya karena malu pada teman-teman.
  • Apabila berusia 12 tahun, Ibu menyuruh mengerjakan pekerjaan rumah. Kita ucapkan terima kasih dengan menonton televisi.
  • Menjelang usia 13 tahun, Ibu menyuruh kita memakai pakaian yang menutup aurat. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan memberitahu bahwa pakaian itu ketinggalan zaman.
  • Ketika berusia 14 tahun, Ibu banting tulang bekerja untuk membayar iuran sekolah. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan tidak pernah menuruti perintahnya.
  • Berusia 15 tahun, Ibu pulang kerja merindukan akan ciuman kita. Kita ucapkan terima kasih dengan mengunci pintu kamar.
  • Menjelang usia 18 tahun, Ibu menangis gembira mendengar kita masuk ke perguruan tinggi. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan bersuka ria bersama kawan-kawan di cafe.
  • Ketika berusia 19 tahun, Ibu bersusah payah membayar iuran pengajian, menghantar ke kampus, dan menyeret koper kita ke kamar kos. Kita hanya ucapkan selamat jalan pada Ibu di luar kamar kos karena malu dengan kawan-kawan.
  • Berusia 20 tahun, Ibu bertanya apakah kita sudah punya pacar atau calon suami?. Jawab kita, “Itu bukan urusan Ibu”.
  • Setelah berusia 21 tahun, Ibu memberikan pandangan mengenai pekerjaan. Kita bilang, “Saya tidak mau seperti Ibu”.
  • Ketika berusia 22-23 tahun, Ibu membelikan perabot untuk rumah kita. Di belakang Ibu kita katakan pada kawan-kawan, “Perabot pilihan Ibu aku kuno, tidak sudi aku!”.
  • Menjelang usia 24 tahun, Ibu bertemu dengan calon menantunya dan bertanya tentang rencana masa depan. Kita mendelik dan bersungut, “Ibu tooooooolonglah…”.
  • Ketika berusia 25 tahun, Ibu bercucuran keringat membiayai biaya pernikahan kita. Ibu menangis dan memberitahu betapa dia sangat menyayangi kita, tetapi kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan pindah rumah.
  • Pada usia 30 tahun, Ibu menelpon memberikan nasihat dan petuah mengenai perawatan bayi. Kita dengan mudah berkata, “Itu dulu, sekarang zaman sudah modern, jelas beda”.
  • Ketika berusia 40 tahun, Ibu menelpon mengingatkan tentang kampung halaman. Kita berkata, “Kami sibuk, tak ada waktu pulang kampung”.
  • Apabila usia 50 tahun, Ibu jatuh sakit dan meminta kita menjaganya. Kita bercerita mengenai kesibukan dan kisah-kisah orangtua yang menjadi beban kepada anak-anak. Dan kemudian, suatu hari kita mendapat berita Ibu meninggal. Kabar itu bagaikan petir !! dalam lelehan airmata, barulah segala perbuatan kita terhadap Ibu menerpa satu-persatu.
Jika Ibu masih ada, sayangi dia. Jika telah tiada ingatlah kasih dan sayangnya. Sayangilah Ibu, karena kita semua ada dari seorang Ibu. Sekarang datang dan peluklah Ibu kita. Bersimpuhlah di kaki Ibu, rasakan keringat dan airmatanya. Di sana ada rasa sayang dan cinta sejati.
:: Puisi ini tersebar di berbagai mailing list tanpa disertakan nama penulisnya ::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar