Selasa, 27 September 2011
Hiruk pikuk kota Bekasi, macet sana-sini, motor tak ada yang mau mengalah, panas walaupun disore hari, dan berebut oksigen di dalam angkutan umum. Itulah suasana disore hari ketika saya berangkat kuliah. Tak seperti biasanya, hari itu saya ingin ke kampus melewati terminal Bekasi.
Angkutan umum yang saya naiki berisi 7 orang beserta sopir. 1 orang wanita duduk di bangku 6, 3 orang (2 orang wanita, saya termasuk di dalamnya dan 1 orang pria) duduk di bangku 4, dan 2 orang wanita duduk di depan dekat sopir. Karena macet dan tak bisa bergerak. Akhirnya, Pak sopir pun bertanya kepada para penumpang, “pada turun di mana Mba, Mas, Dek?” dan kami menjawab dengan nada yang tak serentak, “ter, termi, termin, terminal”. Ternyata 4 diantara 6 orang turun di terminal, Pak sopir tetap sabar menunggu giliran melangkah. Ada yang aneh, 2 orang wanita yang duduk di dekat Pak sopir tak memberikan jawaban. Akhirnya, Pak sopir bertanya kembali hingga mengulang 2 kali dan belum ada jawaban juga, mungkin Pak sopir merasa aneh sehingga dicoleklah pundak salah satu wanita tersebut. Dan saya memperhatikan sambil berbicara dalam hati “lah qo ga denger sopirnya nanya sih, padahal duduk di sampingnya?”. Karena aneh, saya terus memperhatikan percakapan Pak sopir dengan 2 orang wanita tersebut. 2 orang wanita tersebut tak mengeluarkan suara hanya gerakan-gerakan bibir dan tangan yang tak saya mengerti begitu pun Pak sopir. Ternyata 2 orang wanita tersebut tuna rungu dan tuna wicara. Astaghfirullah, saya menyesal sudah berbicara semacam itu dalam hati, padahal saya belum tahu apa yang terjadi. Akhirnya, Pak sopir mempersilahkan mereka untuk menulis agar Pak Sopir tahu mereka turun dimana. Ternyata mereka turun lebih dulu daripada saya. Ketika mereka turun, saya ingin tahu seperti apa mereka, karena saya duduk di belakang. Jadi, saya tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Pintu mobil terbuka, mereka turun dan saya dengan sigap menoleh agar dapat melihat mereka.
Subhanallah, tahukah Anda, seperti apa mereka? Cantik, kulitnya mulus, putih, tinggi. Entah mereka muslim atau bukan. Yang saya lihat sepertinya mereka keturunan china. Secara fisik saya akui mereka sempurna. Tetapi, Allah tidak memberi mereka anugerah sebagaimana Allah memberi anugerah kepada saya yaitu bisa berbicara dan mendengar. Dalam arti mereka tuna rungu dan tuna wicara.
:: Di sini saya mengambil pelajaran bahwa Allah Maha Sempurna yang menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya bersyukur karena saya diberikan anugerah yang sangat berharga. Semoga segala sesuatu yang Allah anugerahkan kepada saya dapat saya jaga dan saya gunakan sebagaimana mestinya. Aamiin