Semakin Banyak Tahu,,


Semakin Kita Tahu,,

Bahwa Masih Sedikit Yang Kita Tahu..

Sabtu, 01 Oktober 2011

Syukuri Apa Yang Ada


Selasa, 27 September 2011
Hiruk pikuk kota Bekasi, macet sana-sini, motor tak ada yang mau mengalah, panas walaupun disore hari, dan berebut oksigen di dalam angkutan umum. Itulah suasana disore hari ketika saya berangkat kuliah. Tak seperti biasanya, hari itu saya ingin ke kampus melewati terminal Bekasi.
Angkutan umum yang saya naiki berisi 7 orang beserta sopir. 1 orang wanita duduk di bangku 6, 3 orang (2 orang wanita, saya termasuk di dalamnya dan 1 orang pria) duduk di bangku 4, dan 2 orang wanita duduk di depan dekat sopir. Karena macet dan tak bisa bergerak. Akhirnya, Pak sopir pun bertanya kepada para penumpang, “pada turun di mana Mba, Mas, Dek?” dan kami menjawab dengan nada yang tak serentak, “ter, termi, termin, terminal”. Ternyata 4 diantara 6 orang turun di terminal, Pak sopir tetap sabar menunggu giliran melangkah. Ada yang aneh, 2 orang wanita yang duduk di dekat Pak sopir tak memberikan jawaban. Akhirnya, Pak sopir bertanya kembali hingga mengulang 2 kali dan belum ada jawaban juga, mungkin Pak sopir merasa aneh sehingga dicoleklah pundak salah satu wanita tersebut. Dan saya memperhatikan sambil berbicara dalam hati “lah qo ga denger sopirnya nanya sih, padahal duduk di sampingnya?”. Karena aneh, saya terus memperhatikan percakapan Pak sopir dengan 2 orang wanita tersebut. 2 orang wanita tersebut tak mengeluarkan suara hanya gerakan-gerakan bibir dan tangan yang tak saya mengerti begitu pun Pak sopir. Ternyata 2 orang wanita tersebut tuna rungu dan tuna wicara. Astaghfirullah, saya menyesal sudah berbicara semacam itu dalam hati, padahal saya belum tahu apa yang terjadi. Akhirnya, Pak sopir mempersilahkan mereka untuk  menulis agar Pak Sopir tahu mereka turun dimana. Ternyata mereka turun lebih dulu daripada saya. Ketika mereka turun, saya ingin tahu seperti apa mereka, karena saya duduk di belakang. Jadi, saya tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Pintu mobil terbuka, mereka turun dan saya dengan sigap menoleh agar dapat melihat mereka.
Subhanallah, tahukah Anda, seperti apa mereka? Cantik, kulitnya mulus, putih, tinggi. Entah mereka muslim atau bukan. Yang saya lihat sepertinya mereka keturunan china. Secara fisik saya akui mereka sempurna. Tetapi, Allah tidak memberi mereka anugerah sebagaimana Allah memberi anugerah kepada saya yaitu bisa berbicara dan mendengar. Dalam arti mereka tuna rungu dan tuna wicara.
:: Di sini saya mengambil pelajaran bahwa Allah Maha Sempurna yang menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya bersyukur karena saya diberikan anugerah yang sangat berharga. Semoga segala sesuatu yang Allah anugerahkan kepada saya dapat saya jaga dan saya gunakan sebagaimana mestinya. Aamiin

Buah Dari sedekah


Sebuah kisah nyata yang saya alami pada hari minggu, tanggal 25 September 2011. Kala itu saya dan adik saya sebut saja namanya Rachii. Kami menghadiri sebuah seminar di Masjid Agung Al-barkah Bekasi dari pukul 09:00 s/d selesai. Di sini saya tidak akan membahas secara detail tentang isi seminar tersebut. Tetapi salah satu dari beberapa kejadian setelah pulang dari seminar tersebut. Kenapa saya sebut salah satu? karena beberapa hari kemudian setelah seminar ada kejutan-kejutan dari Sang Maha Membalas. Sebagai bocoran, inti dari seminar tersebut ialah tentang sedekah.
***
Rachii mengendarai motor dimana saya duduk dibelakangnya (diboncengi). Ketika itu motor yang Rachii kendarai memang melaju cukup kencang karena jalan raya lengang, tidak banyak kendaraan yang melaju di sana. Tiba-tiba diperempatan jalan ada angkutan umum yang juga melaju kencang, sungguh saya sangat sangat terkejut, menutup mata, dan berteriak “ASTAGHFIRULLAH, LAILAHAILLALLAH MUHAMMADARASULULLAH”. Terdengar gesekan antara muka angkutan umum dengan motor bagian samping. Saya kira, saya akan terpental jauh karena kejadian tersebut. Alhamdulillah atas izin Allah, angkutan umum itu berhenti tepat di bagian samping motor yang kami kendarai dengan sedikit gesekan, sehingga posisi kami seperti huruf  T. Perlahan saya membuka mata dan membelalakkan mata saya karena tak percaya. Subhanallah, sungguh di luar dugaan, kami semua selamat tak ada yang terluka walaupun saya melihat sopir angkutan umum itu terlihat kesal dan sedikit ada goresan di motor. Namun, alhamdulillah tak ada yang celaka. Ini kuasa Allah.
***
Teringat oleh saya ketika acara seminar selesai para peserta yang menghadiri seminar tersebut dipersilahkan untuk bersedekah. Dan dianjurkan agar sedekahnya, sedekah yang luar biasa. Alhamdulillah, saat itu menjadi pengalaman pertama saya dimana saya bersedekah yang luar biasa (maaf bukannya saya ingin pamer, namun hanya ingin berbagi pengalaman. Tetapi rasanya tak perlu saya sebutkan nominalnya). Dan akhirnya, saya mengkait-kaitkan kejadian di atas sebagai balasan langsung dari Allah berupa keselamatan untuk saya dan Rachii, karena kami bersedekah. Benar yang pembicara katakan ketika seminar berlangsung, salah satu yang beliau katakan mengenai sedekah ialah “sedekah itu menolak bala”. Dan itu langsung saya alami setelah pulang dari seminar tersebut. Subhanallah.
Dan untuk kejutan lainnya dari Sang Maha Membalas, akan saya post dikemudian hari.
Terima kasih.